Seperti telah diketaui, setiap orang memiliki takaran rezeki yang berbeda-beda. Namun demikian, Alloh telah menjamin rezeki bagi setiap makhluk di muka bumi ini. Rezeki harus diyakini pasti sudah diatur oleh Alloh dengan kadar yang berbeda-beda. Meski demikian, kerja keras jelas diperlukan untuk membuka pintu rezeki plus dengan dibarengi amalan-amalan lainnya.
Tidak sedikit orang yang mendapatkan rezeki melimpah dalam hidupnya, tapi tidak jarang juga rezeki tersebut akan kembali ke Alloh. Pada dasarnya, semua rezeki itu hanyalah titipan dari Alloh dan Kita diharuskan untuk mengusahakan rezeki dengan ikhtiar sekuat pikiran dan tenaga yang ada.
Dalam mencari rezeki ini, Alloh juga akan melihat bagaimana usaha makhluk dalam menjemputnya. Seperti apakah dengan sungguh-sungguh atau bermalas-malasan. Alloh jelas maha kuasa apakah akan memberikan kemudahan bagi mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh meski rezeki telah diatur. Kesungguhan ini akan selalu menjadi perhatian juga di sisi Alloh. Karena kemalasan jelas menjadi sifat yang tidak disukai oleh Alloh.
Bila mengalami kesulitan dalam berikhtiar menjemput rezeki ini, maka manusia tidak boleh merasa putus asa. Harus selalu ada keyakinan dalam diri bahwa Alloh akan memberikan jalan bagi hamba-Nya yang mau berusaha sekuat pikiran dan tenaganya.
Terkait ini, Alloh berfirman dalam QS: an-Najm ayat 39 :
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ # وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ
Artinya: “Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya # bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).”
Menurut ahli tafsir, huruf lam (لم) pada firman-Nya lil insaani (للإنسان) berarti memiliki. Yakni memiliki yang hakiki, terus menerus sepanjang eksistensinya.
Inilah bedanya amal dengan kepemilikan temporer seperti harta atau kedudukan. Sedangkan kata sa’a (سعى) secara bahwa berarti berjalan cepat tapi tidak sampai berlari. Kata ini kemudian bermakna usaha yang sungguh-sungguh.
Dalam menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir menyatakan bahwa seseorang tidak akan memperoleh pahala kecuali dari apa yang dilakukannya sendiri. Sedangkan untuk doa dan sedekah yang pahalanya dihadiahkan untuk mayit, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal itu akan sampai sebagaimana disepakati oleh para ulama sebab ada dalil lain yang menyatakan hal tersebut.
Sedangkan Buya Hamka dalam tafsir al-Azhar menafsirkan ayat ini lebih luas. Menurutnya, ayat ini tidak hanya terkait pahala di akhirat, tetapi juga terkait dengan kesuksesan usaha manusia di dunia. “Hasil pekerjaan Kita, Kita dapati sekadar usaha yang telah Kita lakukan,” sebut Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar. “Apabila Kita malas, akan mendapat sedikit atau tidak mendapat sama sekali. Tidaklah boleh Kita menyalahkan orang lain, mengapa sedikit yang Kita dapatkan.”
Berangkat dari Tafsir al-Azhar ini, ayat ini mengingatkan pentingnya ikhtiar sekuat tenaga dan pikiran. Jika ingin pandai, maka manusia hendaklah sungguh-sungguh belajar. Jika ingin kaya, maka hendaklah sungguh-sungguh dalam bekerja. Jika ingin sukses, hendaklah sungguh-sungguh dalam berusaha.
Sedangkat di ayat selanjutnya merupakan penegasan bahwa setiap upaya seseorang pasti akan terlihat. Dalam pengertian kalau di akhirat jelas akan bisa diketahui melalui proses timbangan amal baik dan buruk. Namun demikian, di dunia juga akan terlihat hasilnya. Walaupun belum tentu Alloh berkenan memperlihatkannya secara keseluruhan saat Kita masih hidup di dunia. Bisa jadi Alloh akan menyimpan hasilnya dan diperlihatkan di akhirat.
Oleh karena itu, tugas Kita sebagai manusia hanyalah berupaya dan bekerja sekuat pikiran dan tenaga, sedangkan kapan Alloh akan memperlihatkanya sudah tidak selayaknya Kita pikirkan hasilnya. Karena Alloh maha tahu, baiknya kapan hasil upaya dan usaha Kita akan diberikan. Semoga Alloh selalu memudahkan Kita semua dalam mencari rezeki…. Amin.. ya Robbal alamin….
Disampaikan Oleh : Al-Ustadz Imam Muttaqin




Leave a reply