Melanjutkan tema tentang jalan-jalan pembuka pintu rezeki, pada tulisan kali ini akan Kita coba bahas salah satunya. Kalau sebelumnya telah Kita ulas pintu rezeki dengan menikah, kali ini akan Kita kaji lebih dalam dari jalur keberadaan anak.
Setelah berkeluarga pastinya setiap Kita akan menantikan hadirnya anak. Khususnya bagi yang menikah untuk pertama kalinya. Meskipun tidak sedikit beberapa orang yang terpaksa berpisah saat berkeluarga dan kemudian menikah lagi juga ada yang mengharapkan kehadiran anak.
Pada tulisan pekan lalu, Alloh jelas menjamin rezeki bagi siapa saja yang menikah. Oleh karena itu, kelanjutan dari buah pernikahan sebagaimana di atas umumnya adalah hadirnya anak. Maka dari sini, bagi yang sudah menikah sebaiknya tidak beralasan untuk menunda hadirnya momongan. Karena kehadiran buah hati dari sebuah pernikahan juga akan menambah luas terbukanya pintu rezeki.
Kalau menunda kehadiran buah hati karena kekhawatiran akan kemampuan kedua orang tuanya untuk memenuhi kebutuhannya, maka hal ini lebih mendekatkan seseorang pada tipisnya iman dalam hatinya. Karena hal ini yang terjadi pada masa jahiliyah sebelum kehadiran Islam. Banyak orang membunuh anaknya yang lahir karena takut akan kurangnya rezeki dari Alloh. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim yang penuh dengan iman kepada Alloh sudah tidak selayaknya khawatir akan adanya anak yang dilahirkan dari sebuah pernikahan yang sah.
Untuk hal ini bisa Kita Simak firman Alloh dalam Qur’an Surat al-Isra ayat 31 berikut;
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
Artinya: “Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar.” (QS: al-Isra’ ayat 31)
Menurut Quraish Shihab dalam tafsir al-Misbah, salah satu keburukan masyarakat Jahiliyah adalah membunuh anak-anak perempuan antara lain karena faktor kemiskinan. Kemudian, setelah ada penjelasan bahwa Allah menganugerahkan kepada semua hamba-Nya rezeki sesuai kebutuhan masing-masing, maka ayat ini melarang pembunuhan itu.
Ayat ini sangat jelas agar manusia tidak mengkhawatirkan tentang rezeki anak dan orang tuanya. Karena bukan manusia yang menjadi sumber rezeki, tetapi Alloh-lah sumbernya. Karena itu Alloh yang akan memberi dan menyiapkan sarana rezeki kepada mereka dan juga orang tuanya. Yang penting setiap manusia harus berusaha untuk memperolehnya.
Ayat ini juga ditunjukkan kepada para orang tua yang khawatir takut miskin karena kehadiran anak-anak mereka. Karenanya Allah menurunkan ayat ini untuk menjawab dan untuk menyingkirkan kekhawatiran itu. Maka sudah sepantasnyalah sebagai orang yang beriman untuk yakin dan mengimani hal ini.
Lalu bagaimana agar kehadiran anak menjadi jalan terbukanya pintu rezeki? Beberapa ulama menyatakan bahwa orang tua harus mendidiknya menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah. Mereka harus diarahkan agar tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Alloh. Walaupun terlihat saat membiayai anak mengeluarkan uang yang tidak sedikit, namun pasti Alloh akan memberikan jalan kepada kedua orang tuanya.
Sebagai penyemangat, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab dengan panggilan “Gus Baha”, beliau pernah berpesan kepada para orang tua. Berikut petikan pesannya, “Pandangilah anak-anak kita sebagai penerus sujud kepada Alloh, penerus mentauhidkan Alloh, penerus perjuangan agama Islam. Jika demikian, berapapun biaya yang kita keluarkan untuk anak kita, pada hakikatnya kita membiayai agama Alloh”.
Dari pesan ini Kita juga bisa memahami, bahwa Kita tidak boleh ragu dengan rezeki yang sudah dijamin oleh Alloh dari hadirnya buah hati. Kita harus yakin kepada-Nya. Tidaklah mungkin Allah mendzalimi hamba-hamba-Nya. Sungguh, teramat mudah bagi Alloh untuk melimpahkan rezeki bagi diri dan anak-anak Kita.
Disampaikan Oleh : Al-Ustadz Imam Muttaqin




Leave a reply