Para Ulama sepakat bahwa Iman adalah ketetapan hati, pengucapan dengan lisan, mengamalkan dengan anggota badan.
Faktor- faktor yang meyebabkan bertambah keimanan kita :
1. Pertama adalah Ma’rifatullah, dari nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, menjalankan rukun iman dengan sungguh- sungguh, dengan ketetapan hati yang kuat. Dan merasa diri kita selalu diawasi oleh Allah SWT, di dalam keadaan apapun.
2. Kedua Dengan melihat tanda- tanda kebesaran Allah SWT, yang ada pada alam semesta dan Syariat-Nya. Setiap kita melihat tanda kekuasaan yang ada di alam semesta, yang berupa makhluk-makhluk seluruhnya dan merasakan hikmahnya, maka dengan sendirinya akan naik dan bertambah Iman kita. Seperti yang di Firmankan Allah SWT,
وَفِي الاَرْضِ اٰيَاتٌ لِلْمـُوقِنِينَ ؛٢٠. وَفِي اَنْفُسِكـمْ اَفَلَا تُبْصِرُونَ:٢١.(الذاريات:٢٠٫٢١)
“Dan di bumi itu terdapat tanda tanda ( kekuasaan Allah) bagi orang- orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri, Maka apakah kamu tiada memperhatikan?”( Adz-Dzariyaat : 20,21).
3. Ketiga Taat dengan perintah Allah SWT. Kalau kita semakin taat dan istiqomah dalam ibadah, tentu iman kita tambah kuat, baik ketaatan dari aspek perkataan maupun perbuatan. Dzikir baik secara kualitas maupun kuantitas dapat menambah keimanan kita, begitu juga dengan shalat, puasa, haji tentu bisa menambah kekuatan Iman kita.
Sedangkang Fator- faktor yang meyebabkan berkurangnya Iman kita,,
1. Sebab pertama tidak memahami kekuasan Allah SWT, baik dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, kurangnya pengetahuan kita terhadap hal tersebut berdampak pada kurangnya iman kita.
2. Sebab kedua kita tidak mau memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, yang terbentang di alam semesta dan syariat-Nya.
3. Sebab yang ketiga melakukan kemaksiatan, dikarenakan kemaksiatan mempunyai pengaruh yang besar terhadap hati dan keimanan, Nabi Muhammad SAW, Bersabda :
لاَيَزْنِي الزَانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَسْرِقُ السَارِقُ حِينَ يَسرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلا َيشْرَبُ الخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمُنٌ. (متفق عليه)
“Seorang pezina tidak akan berzina jika ia berada dalam keimanan. Seorang pencuri tidak akan mencuri jika ketika itu dia berada dalam keimanan, yang sempurna, Begitu juga seorang peminum arak, tidak akan minum arak jika ia berada dalam keimanan ( Muttafaq’alaih) Dalam kitab Al Hudud, bab ‘Az-zina wa Syurb Al-Khamr .
Maka dari itu semua kita harus mempupuk Iman kita, Supaya tumbuh subur, akarnya kuat, dan menghasilkan buah dari keimanan tersebut bisa kita rasakan. Semoga Allah SWT, meridhoi seluruh amal kebaikan kita. Aamiin..
Disampaikan Oleh : Al-Ustadz Sartono




Leave a reply