Dalam kehidupan sehari-hari hubungan silaturahim antar umat Islam khususnya di Indonesia memiliki banyak sekali dinamika. Tidak jarang kita melihat banyaknya konflik yang terjadi ditengah-tengah umat islam, yang menyebabkan terjadinya perpecahan, permusuhan di antara umat Islam itu sendiri.
Ada banyak alasan yang melatarbelakangi terjadinya konflik tersebut diantaranya perbedaan ideologi, mazhab, organisasi, dan politik. Padahal dari sekian banyak perbedaan yang ada, masih lebih banyak lagi persamaan yang mestinya menjadi penguat persatuan antar umat Islam itu sendiri.
Dalam Al-Qur’an Allah SWT sudah menegaskan untuk senantiasa menjaga ukhuwah (persaudaraan) antar umat Islam, sebagaimana dalam QS. Al-Hujurat Ayat 10:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat”
Berdasarkan ayat tersebut, umat islam seyogyanya tidak terjebak dalam perbedaan-perbedaan yang sudah menjadi keniscayaan dalam kehidupan beragama. Maka guna memitigasi perpecahan sekalian membangun hubungan yang baik antar sesama umat Islam adalah dengan merawat dan melestarikan budaya silaturahim, di antaranya baik dengan saling mengunjungi, maupun membangun komunikasi yang dialektik harmonis antar sesama umat Islam itu sendiri.
Dalam Al Qur’an QS. An-Nisa: 1, Allah SWT berfirman:
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا..
“…. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, yang dengan nama-Nya kalian saling meminta, dan peliharalah hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kalian.”
Ayat ini mengingatkan kita akan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, apalagi hubungan kekeluargaan yang merupakan salah satu silaturrahim yang utama. Namun, silaturrahim dalam Islam tidak hanya sekedar bertemu atau berbicara satu sama lain, tetapi harus ada nilai-nilai yang transformatif.
Silaturahim yang transformatif adalah silaturahim yang membawa perubahan positif, baik bagi diri kita, orang lain, maupun masyarakat secara keseluruhan. Silaturahim yang harusnya dibangun bukan hanya sekadar saling menyapa dan saling melempar senyum. melainkan harus ada hubungan silaturahim trasnformatif yang terjalin sehinga perbedaan yang ada tidak menjadi masalah akan tetapi menjadi sebuah kekuatan hubungan antar sesama muslim yang mencerahkan.
Silaturahim transformatif adalah hubungan yang bukan hanya berdasarkan pada pertemuan fisik, tetapi juga berdasarkan pada perubahan batin yang membawa kedamaian, kebahagiaan dan keberkahan. Dalam setiap pertemuan, kita hendaknya bisa memberikan manfaat, berbagi kebaikan, dan saling memperbaiki diri.
Rasulullah SAW memberikan contoh nyata dalam membina hubungan yang transformatif. Beliau tidak hanya mengajarkan hagaimana cara berbicara dengan baik, tetapi lebih dari itu, bagaimana menjalin hubungan yang mencerahkan jiwa. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah seorang muslim itu beriman hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini mengajarkan kita bahwa silaturahim yang sejati adalah silaturahim yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang. Ketika kita menjalin hubungan dengan orang lain, baik itu keluarga, teman, atau saudara sesama muslim, kita harus menjaga hati kita untuk benar-benar mencintai mereka dengan sepenuh hati, tanpa adanya rasa dengki atau riya. Dengan begitu, hubungan yang kita bangun akan menjadi lebih bermakna dan tercerahkan.
Dalam Tafsir Al-Munir Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa “Umat islam sepakat bahwa memelihara dan menyambung ikatan kekeluargaan (silaturahim antar umat Islam) adalah wajib hukumnya. Sebaliknya memutuskan tali silaturahim adalah haram hukumya.”
Oleh karena itu sebagai orang yang beriman, kualitas silturrahim kita harus senantiasa di tingkatkan. Nilai-nilai transformatif dalam makna silaturrahim itu harusnya menjadi spirit setiap perjumpaan kita.
Sehingga hubungan yang lebih baik, hubungan yang tercerahkan dapat terjalin dengan baik bagi kita umat islam di Indonesia. Dengan menjaga silaturrahim yang penuh kasih sayang, kita akan merasakan manfaatnya, baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam keluarga, maupun dalam masyarakat.
>———————————–<
Disampaikan Oleh : Al-Ustadz Arfan Khoirun Halim




Leave a reply