Bismillahirrahmannirahim….
جالس أهل الصدق والوفاء
Jaalis Ahlash Shidqi Wal Wafaai
Bergaullah Dengan Orang yang Terpercaya dan Menepati Janji
عَنْ أَبِيْ هُرَيرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ، قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا أْتُمِنَ خَان . (رَوَاهُ الْبَخَارِيْ وَمُسْلِمُ)
Dari Abu Hurairah r.a. Rasullullah SAW bersabda “Tanda-tanda orang munafik ada tiga macam, yaitu apabila ia berkata, ia berdusta. Apabila ia berjanji ia menginkari dan apabila ia dipercaya ia menghianati” (H.R Bukhari dan Muslim)
Jujur adalah ucapan yang sesuai dengan keadaan, waktu serta kejadian yang telah terjadi. Jika suatu berita sesuai dengan keadaan yang ada maka dikatakan benar/jujur. Namun jika berita tidak sesuai dengan kenyataan maka itu adalah suatu kebohongan.
Seperti saat iblis membisikkan sesuatu kepada Nabi Adam dan Siti Hawa untuk memakan buah agar bisa kekal di surga, namun kenyataannya bahwa Allah Melarang perbuatan itu. Dari kejadian ini, kita tahu bahwa kebohongan sangat menyesatkan. Iblis telah membohongi Nabi Adam dan Siti Hawa.
Di dunia ini tidak hanya iblis yang berbentuk jin, namun ada juga yang berbentuk manusia. Sebagai contoh, ketika Nabi Musa menghadap Allah selama 40 hari dan meninggalkan kaumnya, Samiri membuat sebuah patung sapi dari emas, yang kemudian mengajak kaum Musa untuk menyembahnya, hanya karena bisa mengeluarkan suara. Padahal Nabi Musa telah mengajarkan secara berulang-ulang bahwa Ilah yang patut disembah hanyalah Allah semata, Yang Maha Esa, yang bukan buatan manusia seperti patung. Samiri telah membohongi umat Nabi Musa dengan ajaran ini, maka orang-orang dengan model ini tidak pantas untuk dijadikan teman bergaul agar kita terhindar dari jerumusannya.
Sedangkan ahlul wafa adalah orang yang menepati janji. Janji adalah ucapan seseorang kepada orang lain yang menyangkut keduanya. Janji adalah hutang, maka ucapan yang telah dilontarkan jika tidak terlaksana menjadi hutang bagi yang bersangkutan dan mengecewakan. Ketika kita berhutang, dan berjanji untuk membayar pada batas waktu namun tidak terjadi, tentunya mengecewakan dan akhirnya ditinggalkan serta dijauhi, bahkan mendapat hukuman dari Allah di akhirat kelak. Semoga kita terhindar dari sifat pembohong dan pengingkar janji.
Wallahu a’lamu bish shawab
Oleh : Al-Ustadz Arfan Khoirun Halim




Leave a reply