Secara sederhana, berdoa merupakan komunikasi langsung antara seorang Muslim dengan Allah Swt. Berdoa bukan hanya sebagai sarana untuk meminta sesuatu, tetapi juga sebagai bentuk ibadah, pengakuan akan kebesaran Allah Swt., dan wujud ketergantungan total kepada-Nya.
Setiap makhluk yang berdoa akan dikabulkan oleh Sang Pencipta. Hal ini menunjukkan bahwa setiap manusia yang hidup di bumi harus senantiasa beribadah kepada Allah Swt. baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Allah Swt. telah berfirman dalam Q.S. Al-Mu’minun ayat 60 sebagai berikut:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Dan Tuhanmu berfirman: ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”
Setiap kegiatan yang diawali dengan doa, niscaya Allah Swt. akan meridhai apa yang kita lakukan.
Ketika kita berdoa, ada tiga perkara yang perlu kita ketahui:
- Bisa jadi doa kita langsung dikabulkan,
- Doa kita akan ditangguhkan pengabulannya di akhirat dan diganti dengan pahala, atau
- Doa kita tidak dikabulkan karena hal tersebut tidak membawa kebaikan, dan Allah Swt. menggantinya dengan menghapus dosa kita atau menghindarkan kita dari keburukan.
Dari Abu Hurairah ra. (w. 57 H), Rasulullah saw. bersabda:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ هُوَ ابْنُ أَبِي سُلَيْمٍ عَنْ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو اللَّهَ بِدُعَاءٍ إِلَّا اسْتُجِيبَ لَهُ فَإِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِمَّا أَنْ يُدَّخَرَ لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يُكَفَّرَ عَنْهُ مِنْ ذُنُوبِهِ بِقَدْرِ مَا دَعَا مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ أَوْ يَسْتَعْجِلْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْجِلُ قَالَ يَقُولُ دَعَوْتُ رَبِّي فَمَا اسْتَجَابَ لِي. (رواه الترمذي)
Artinya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. (w. 57 H), dia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seseorang yang berdoa kepada Allah Swt. kecuali akan dikabulkan untuknya, baik akan disegerakan di dunia, dijadikan tabungan di akhirat, atau diampuni dosa-dosanya sesuai dengan doa yang ia panjatkan, selama ia tidak berdoa untuk maksiat, memutus tali silaturahmi, atau terburu-buru.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana seseorang terburu-buru?” Beliau menjawab, “Ia berkata, ‘Aku sudah berdoa, tetapi Tuhanku belum juga mengabulkan untukku.'” (HR. Al-Tirmidzi 209 H – 279 H)
Hadist di atas menunjukkan tentang besarnya keutamaan berdoa kepada Allah Swt. dan kepastian dikabulkannya doa seorang Muslim dengan salah satu dari tiga hal yang disebutkan dalam hadis tersebut. Tentu saja, syarat-syarat dikabulkannya doa perlu kita perhatikan pula.
Hadist ini menegaskan pentingnya berdoa dengan keyakinan bahwa doa akan dikabulkan, baik langsung, ditunda, atau diganti dengan kebaikan lain seperti pengampunan dosa. Syarat-syarat seperti keikhlasan, kesabaran, dan tidak terburu-buru sangat ditekankan. Selain itu, doa yang mengandung maksiat atau bertujuan memutus silaturahmi tidak akan dikabulkan.
Hadist ini juga mengajarkan kita untuk tidak kecewa jika doa belum dijawab, karena Allah Swt. selalu memiliki hikmah terbaik di balik pengabulan doa.
Wallahu a’lam.
Disampaikan Oleh : Al-Ustadz Arfan Khoirun Halim




Leave a reply