Usai menerima wahyu pertama, QS. al-Alaq : 1-5, Nabi Muhammad SAW sempat merasa takut dan bingung, hingga Allah menurunkan wahyu kedua berupa QS al-Mudatsir: 1-7.
يٰأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ ۙ١ # قُمْ فَأَنْذِرْ ۖ٢ # وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۖ٣ # وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۖ٤ # وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۖ٥ # وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ ۖ٦ # وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ ۗ٧
Dalam wahyu kedua ini Allah SWT seakan menunjukkan jawaban sekaligus motivasi agar Nabi Muhammad SAW tetap bisa berbuat dan bertindak yang lebih baik lagi. Dalam makna yang lebih luas, awal surat Al Mudatsir mengandung pesan motivatif buat Kita sebagai umat Nabi dalam menjalani kehidupan ini.
Oleh karena itu, bagi seorang mukmin yang mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad SAW tidak boleh untuk bermalas-malasan. Untuk meraih hari esok yang gemilang dan masa depan pasca kematian tidak ada jalan lain kecuali bangkit dan menghempaskan selimut (kemalasan) dalam diri.
Perintah قُمْ فَأَنْذِرْ (bangun dan beri peringatan) dapat diartikan sebagai perintah agar seseorang bisa meninggalkan dan mengubah kondisi dirinya dari aneka keterpurukan, kelemahan, kegamangan, dan kondisi tidak sadarkan diri. Ini karena aktifitas seseorang akan sangat terbatas ketika ia bekerja dalam kondisi duduk, tiduran, berbaring, bahkan tak sadarkan diri.
Secara ringkas, berikut lima perintah Allah yang harus dilakukan seorang ummat Nabi Muhammad SAW untuk meraih masa depan yang gemilang sebagaimana masa keemasan yang digapai oleh Nabi Muhammad SAW;
Pertama, Agungkan Tuhan
وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ ۖ٣
“Dan Tuhanmu agungkanlah!”
Seorang muslim sebagai penyampai risalah kenabian, baik dia seorang dai atau lainnya harus mengagungkan Allah yang memerintahkannya. Jika ia memahami hal ini dan benar-benar ia jiwai maka segala bentuk kemegahan, kebesaran dan kemewahan dunia akan kecil di matanya. Ia takkan tergiur oleh gemerlapnya dunia. Juga tidak akan silau dengan tipu kekuasaan dunia. Tidak pula takut oleh segala bentuk ancaman yang datang dari selain Allah. Siapapun dia, raja atau penguasa dari belahan dunia manapun. Kekuasaan dan kesombongannya tak akan ada yang bisa mengalahkan Yang Maha Perkasa dan Agung. Dan kelak Allah akan menghukum hamba-hamba-Nya yang berani menyombongkan diri. Sehingga tak akan ada kebesaran yang tersisa di dunia ini selain kebesaran dan keagungan-Nya.
Kedua, Sucikan Pakaian jasmani dan rohani
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ ۖ٤
“Dan pakaianmu bersihkanlah”.
Setelah mengagungkan Allah, setiap mukmin juga perlu memperhatikan penampilan fisiknya, bersih dan menarik. Karena ini merupakan salah satu strategi menarik perhatian orang lain. Dengan performance yang meyakinkan setidaknya kesan pertama akan dikenali oleh masyarakat saat berhadapan dengan Kita. Karena itulah risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW selalu sarat dengan kebersihan. Makin dalam dan matang keimanan seseorang maka ia akan semakin memelihara kebersihan.
Ketiga, Tinggalkanlah perbuatan buruh (yang dilarang Allah)
وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ ۖ٥
“Dan perbuatan dosa tinggalkanlah”.
Setelah seseorang memelihara kebersihan fisik, maka ia harus menyempurnakannya dengan kebersihan batin. Yaitu dengan menjauhi serta meninggalkan segala macam bentuk dosa. Ini adalah bentuk penaggalan hal-hal yang negatif dari dalam diri seorang dai. Dosa dan maksiat akan mengakibatkan hati seseorang terkotori sehingga kata-katanya juga tak akan lagi memiliki kekuatan. Lebih bagus lagi memang penampilan fisik yang bagus dibarengi dengan kebersihan hati dan kejernihan jiwa. Hal tersebut akan mengundang pesona dan kharisma yang sangat kuat bagi orang lain.
Keempat, Ikhlas dalam setiap perbuatan hanya karena Allah
وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ ۖ٦
“Dan Jangan kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak”.
Keikhlasan merupakan penyempurnaan hati yang sudah dijauhkan dari dosa dan maksiat. Akhlak ini juga akan membuat seorang dai kuat dan tangguh. Kerja tanpa pamrih, dan kemurnian dakwah pun terjaga dengan jernihnya hati pelakunya. Larangan ini bertujuan agar para dai penerus dakwah para nabi terus berbuat dan berbuat, lebih gigih berusaha dan ringan berkorban serta mudah melupakannya setelah itu. Juga tak terlalu menganggap dirinya sudah berbuat banyak sehingga ia merasa hebat dan berjasa bagi orang banyak. Karena hanya orang berjiwa kerdillah yang selalu merasa besar. Sehingga satu-satunya harapan yang ia inginkan hanya dari Zat yang tak pernah habis kedermawanannya serta kepemilikannya tiada batas.
Kelima, Jaga untuk tetap bersabar melihat kenyataan yang terjadi
وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ ۗ٧
“Dan untuk (memenuhi) perintah Tuhanmu, bersabarlah”.
Pesan terakhir ini mengindikasikan dan memberi isyarat bahwa setiap ajakan dan perbuatan tidaklah selalu berjalan mulus dan otomatis mendapat balasan yang baik. Kesabaran dan persiapan mental setidaknya harus mampu membuat Kita makin siap menerima reaksi apapun terhadap apa yang Kita lakukan.
Sekilas tujuh ayat pertama ini terkesan sederhana. Tapi kandungan pesannya sangat luar biasa. Berangkat dari pijakan normatif inilah Rasulullah semakin kuat dan gigih dalam berdakwah. Tak takut lagi atas ancaman apapun yang akan menimpa atau diarahkan pada beliau, karena beliau memiliki Sang Penolong yang sangat hebat dan tak terkalahkan. Allah SWT.
Oleh : Al-Ustadz Imam Muttaqin




Leave a reply