Bismillahirrahmannirrahim
Disadari atau tidak, perjalanan hidup ini merupakan campuran berbagai elemen serta unsur yang terbilang kompleks. Terkadang Kita merasa seolah-olah sudah berada di tempat yang seharusnya. Di waktu lain, Kita bisa jadi masih merasa harus memulai hidup yang baru. Untuk menjalankan kehidupan ini yang lebih teraarah tidak ada salahnya bagi Kita bila dibuat tujuan jangka panjang serta beberapa tujuan antara lainnya.
Nah, tujuan jangka panjang ini dalam istilah umum ilmu manajemen perusahaan sering disebut dengan visi. Tidak hanya itu, dalam konteks pribadi-pribadi Kita, pembuatan visi kehidupan juga bukan hal yang tidak relevan. Oleh karenanya, pernyataan visi pribadi secara umum dapat membantu arah hidup ini lebih baik dalam mensikapi perubahan dunia eksternal dan internal Kita yang saling terhubung ini.
Dari pemahaman beberapa ahli psikologi, visi pribadi adalah sebuah gambaran dari kehidupan yang ingin dicapai seseorang. Visi pribadi ini biasa disebut juga dengan cita-cita yang diinginkan dengan penjelasan yang lebih detail. Sedangkan dalam konteks beragama, visi dapat dimaknai sebagai azam sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an pada surat Ali Imron ayat 159 sebagai berikut;
فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
Artinya: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS: Ali Imron 159).
Bagi Kita sebagai seorang muslim, Allah memerintahkan apabila telah ditetapkan sebuah keinginan yang kuat (visi dalam Bahasa psikologi dan manajemen), maka seharusnya Kita bertawakkal. Lalu pertanyaannya bagaimana makna tawakkal yang dimaksud ayat tersebut? Berikut menurut para ahli tafsir dan cara sederhana dalam implementasinya di kehidupan sehari-hari.
Tawakkal Menurut Ahli Tafsir
Attabary dalam menjelaskan ayat ini mengartikan dengan ارضَ به من العباد (bebaskan keinginan itu dari harapan terhadap manusia}. Dengan demikian, tawakkal dapat berati membebaskan diri dari harapan-harapan terhadap manusia. Sedangkan dalam tafsir al-Wasith disebukan sebagai berikut;
وفَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ أى اعتمد عليه في الوصول إلى غايتك، فإن الله-تبارك وتعالى- يحب المعتمدين عليه، المفوضين أمورهم إليه مع مباشرة الأسباب التي شرعها لهم لكي يصلوا إلى مطلوبهم.
Artinya: Bergantunglah hanya kepada Allah dalam mencapai apa yang diinginkan, karena Allah mencintai orang-orang yang bergantung hanya kepadanya, yang menyerahkan segala urusannya kepadanya secara langsung beserta sebab-sebab yang diajarkannya agar dapat mencapai apa yang diinginkan.
Perilaku Tawakal
Dari beberapa pemahaman tentang tawakkal di atas, secara mendasar setiap manusia mau tidak mau seharusnya menyadari bahwa dirinya lemah. Hal ini terbukti bahwa banyak orang yang mengalami kegagalan dan tidak berhasil memenuhi harapannya. Keberhasilan usaha seseorang terletak pada kuasa dan kehendak Allah.
Oleh sebab itu manusia harus sadar bahwa ia harus bertawakal kepada Allah setelah ia berusaha dengan maksimal. Orang bertawakal berarti menunggu keberhasilan apa yang diusahakannya. Oleh sebab itu, di saat tawakal hendaknya meningkatkan intensitas do’a kepada Allah agar apa yang diinginkan akan berhasil dengan baik.
Semoga Allah berkenan memberikan Kita semua petunjuk untuk kebahagiaan hidup Kita baik di dunia ini hingga akhirat kelak. Amin ya rabbal alamin..
Oleh : Al-Ustadz Imam Muttaqin




Leave a reply