Bismillahirrahmannirahim
سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ
“Keselamatan Manusia itu Ada Dalam Menjaga Lidah”
ﺍﻟﻜَﻼَﻡُ ﻳَﻨْﻔُﺬُ ﻣَﺎﻻَ ﺗَﻨْﻔُﺬُﻩُ ﺍﻹِﺑَﺮُ
“Perkataan itu Bisa Menembus Apa yang Tidak Bisa di Tembus Oleh Jarum”
Sebagian orang mengatakan, lidah memang tidak bertulang. Mungkin ada benarnya, sebab banyak diantara manusia bahkan kaum muslimin yang tidak mampu mengendalikan lidah dan lisannya. Lidah mudah menjulur dan bergerak kian kemari tanpa kendali dan akhirnya menjadi panglima baginya, yang mesti diperturutkan apapun kehendaknya. Jika lidah telah menjadi panglima, maka berapa banyak dosa dan kesalahan yang dapt ditimbulkan olehnya? Berapa banyak kerusakan dan kehancuran yang disebabkan olehnya? Dan berapa banyak pula akibat buruknya baginya dan bagi orang lain yang dapat dihasilkan olehnya?.
أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فىِ لِسَانِهِ
“Kebanyakan dosa anak-anak adam itu ada pada lisannya.” (H.R At-Thabraniy)
Lisan walaupun itu tulang lunak akan tetapi sangat berbahaya apabila kita tidak menjaganya. Permusuhan, pertengkaran, bisa terjadi gara-gara tidak menjaga lisan. Ibaratnya lisan itu lebih tajam daripada jarum. Lisan bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum. Terpeleset karena lisan lebih berbahaya daripada terpeleset kaki. Adapun beberapa hal yang bahaya karena disebabkan karena bahayanya lisan :
- Berbicara sesuatu yang tidak perlu
- Berlebihan dalam berbicara
- Berkata keji, jorok dan caci maki
- Ejekan dan cemooh
- Menyebarkan rahasia
- Janji palsu
- Berbohong dalam berbicara dan bersumpah, dan masih banyak lagi bahaya yang disebabkan oleh kita yang tidak pandai dalam menjaga lisan dengan baik.
Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghindari dan menjaga lisan dari hal-hal buruk yaitu dengan DIAM (Dawul ghadhab bishumti), Obatilah kemarahanmu dengan diam. Kurang lebih demikian sepenggal kata bijak yang sederhana namun tegas, tegas menyindir kita sebagai manusia yang kadang sering tidak terkendali tatkala kemarahan membakar benci dan emosi yang melekat dalam diri kita. Maka, sahabat kajian yang dirahmati Allah, jika kita marah? Lebih baik diam!!.
Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, ketika seseorang dalam kondisi marah yang memuncak dianjurkan duduk, jika belum sembuh juga dianjurkan untuk berbaring, dan jika berbaringpun belum juga meredakan amarah hendaknya ia mengambil air wudhu. Tiga tahapan itu mempunyai nilai masing-masing. Seseorang ketika sedang marah tapi ia dalam keadaan berdiri tak ayal ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melampiaskan kemarahannya. Yang kedua, berbaring. Berbaring akan meredakan amarah yang memuncak dan darah yang mengalir dengan seimbang karena gejolak marah yang menghantam. Yang ketiga, mengambil air wudhu. Air wudhu akan mendinginkan pori-pori dan aliran darah yang mengalir akan terasa dingin.
Sahabat kajian yang dirahmati Allah,, semoga kita semua bisa menjadi orang yang benar-benar bisa menjaga lisan dengan baik, dan bisa menerapkan ajaran-ajaran Rasulullah dalam mengelola emosi dan amarah yang memuncak. Wallahualam bisshawab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Disampaikan oleh : Al-Ustadz Arfan Khoirun Halim




Leave a reply