Emas sejak dahulu menjadi simbol kekayaan dan alat penyimpan nilai. Dalam sejarah Islam, emas dan perak digunakan sebagai alat tukar yang sah (dinar dan dirham), serta dijadikan standar dalam zakat dan muamalah. Namun, bagaimana jika kita menghadapi kelangkaan emas? Apa yang harus menjadi sikap seorang Muslim dalam menyikapinya?
Islam mengajarkan umatnya untuk tidak panik dalam menghadapi perubahan atau kelangkaan, termasuk dalam hal harta benda. Allah SWT berfirman:
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan…” (QS. Al-Hadid: 20).
Ayat ini mengingatkan bahwa harta benda, termasuk emas, bukanlah tujuan hidup, melainkan hanya sarana. Kelangkaan emas, jika terjadi, harus disikapi dengan bijak dan tidak emosional. Seorang Muslim hendaknya tidak mudah tergoda untuk menimbun, berspekulasi, atau mengambil keuntungan secara zalim atas penderitaan orang lain.
“Emas Bukan Sumber Kebahagiaan”
Emas memang memiliki nilai yang tinggi, tetapi bukanlah penentu kebahagiaan. Rasulullah SAW bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Artinya, meskipun emas langka atau sulit diperoleh, selama kita memiliki hati yang tenang dan bersyukur, kita alih-alih berfokus pada emas yang mungkin langka, kita dianjurkan untuk memperhatikan nilai dan kebermanfaatan dari apa yang kita miliki. Mungkin emas sulit didapat, tapi kita bisa mengalihkannya ke bentuk aset lain yang halal dan produktif, seperti investasi syariah atau membuka usaha kecil.
Dalam menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu, termasuk kelangkaan emas, kita perlu memperkuat tawakal kepada Allah dan berikhtiar dengan perencanaan keuangan yang matang. Simpanan darurat, pengelolaan belanja, dan pilihan investasi yang syar’i menjadi langkah nyata yang bisa diambil.
Yakinlah bahwa rezeki tidak semata dari emas atau harta benda, tetapi datang dari Allah yang Maha Kaya.
Jangan biarkan kelangkaan emas membuat kita gelisah. Jadikan situasi ini sebagai momentum untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan, memperkuat iman, dan memperbanyak amal. Sebab, kekayaan sejati adalah hati yang bersyukur dan tangan yang dermawan.
Disampaikan oleh : Al-Ustadz Mochammad Rizal Nasrullah




Leave a reply