Dalam kehidupan sehari-hari, kadang kita menemui kondisi di mana berhutang menjadi pilihan yang sulit dihindari. Namun, Islam memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi hutang dengan bijak dan penuh tanggung jawab. Hutang tidak dilarang dalam Islam, namun harus dipertimbangkan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang batil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29).
Ayat ini menekankan pentingnya mengelola harta, termasuk hutang, secara benar dan sesuai syariat.
Islam menekankan agar kita berhutang hanya untuk keperluan mendesak atau kebutuhan pokok yang benar-benar diperlukan. Misalnya, kebutuhan kesehatan, pendidikan, atau tempat tinggal. Menggunakan hutang untuk hal-hal yang bersifat konsumtif atau hanya demi mengikuti tren justru bisa membawa beban yang berat. Rasulullah SAW pernah bersabda,
“Barangsiapa berhutang, namun ia berniat tidak melunasinya, maka ia akan menemui Allah sebagai pencuri.”* (HR. Ibnu Majah).
Ini mengajarkan kita untuk berpikir matang sebelum berhutang dan memastikan bahwa hutang tersebut adalah benar-benar untuk kebutuhan yang penting.
Dalam Islam, berhutang harus disertai niat dan komitmen kuat untuk melunasi. Jangan sampai hutang diabaikan atau sengaja tidak dibayar, karena hal ini akan membawa dampak buruk, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah SAW bersabda,
“Ruh seorang mukmin tertahan (dari kebahagiaan akhirat) karena hutang yang belum dilunasinya.” (HR. Ahmad).
Hadis ini menjadi pengingat betapa pentingnya menjaga niat dan usaha untuk segera melunasi hutang yang kita miliki.
Agar tidak mudah berhutang, kita perlu bijak dalam mengelola keuangan. Menyisihkan sebagian penghasilan untuk kebutuhan darurat dan tidak terbawa gaya hidup berlebihan adalah langkah yang sangat dianjurkan. Dengan mengatur keuangan secara baik, kita bisa menghindari hutang yang tidak perlu dan menjaga stabilitas finansial. Islam mendorong kita untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan, seperti yang Allah SWT firmankan,
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al-Isra’: 27).
Jika kita sedang dalam kondisi berhutang, jangan ragu untuk berdoa dan memohon pertolongan Allah agar diberi kemudahan dalam melunasi. Rasulullah SAW mengajarkan doa untuk memohon keringanan hutang,
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga aku tidak membutuhkan selain dari-Mu.” (HR. Tirmidzi).
Dengan berdoa, kita memperkuat tawakal kepada Allah sambil tetap berikhtiar melunasi hutang.
Berhutang dalam Islam adalah amanah yang harus dijaga. Hutang yang tidak dilunasi bisa menjadi beban yang menghalangi kebaikan, bahkan menjadi penghalang kebahagiaan di akhirat. Mari kita berkomitmen untuk bijak dalam berhutang, hanya melakukannya saat benar-benar mendesak, dan tidak lupa segera melunasinya. Dengan demikian, kita akan hidup lebih tenang, bebas dari beban, dan meraih keberkahan dalam setiap harta yang kita miliki.
Disampaikan oleh : Al-Ustadz Mochammad Rizal Nasrullah




Leave a reply