Melanjutkan tulisan pekan lalu tentang luasnya rezeki Allah pada makhluk hidup, kali ini akan coba kita bahas tentang bagaimana caranya memperluas wadah yang akan kita gunakan untuk menampungnya agar bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya.
Sebagaimana rumus mencari luas pada umumnya, luasnya wadah penampung rezeki dari Allah banyak yang mengatakan juga demikian. Yaitu dengan mengukur panjang, lebar, dan tinggi. Untuk memperoleh jawabannya adalah dengan mengkalikan semua komponen tersebut. Namun demikian ada sedikit perbedaan, karena panjang, lebar dan tinggi di sini tidak dapat diukur dengan satuan meter sebagaimana rumusan mencari luas maupun volume dari sebuah bidang. Lalu bagaimana caranya?
Pertama, memahami tentang panjang. Yang dimaksud panjang dalam rumus ini adalah memperpanjang usaha, kapasitas, dan ilmu pengetahuan yang kita miliki dalam mencari rezeki. Usaha yang kita lakukan secara dasar harus berbasis pada kapasitas dan pengetahuan agar membuahkan hasil yang lebih nyata.
Adapun yang kedua, tentang lebar. Dalam pengertian ini, kita harus selalu memperlebar jaringan dalam berupaya menggapai rezeki dari Allah. Untuk memperlebar ini bisa kita lakukan sembari terus berbuat baik untuk sesame makhluk dan lingkungan sekitar. Kita harus selalu berupaya menggunakan setiap kesempatan untuk menolong orang lain agar dapat berbuat kebaikan sebagaimana yang Kita upayakan. Ini karena hidup bukan hanya tentang diri kita sendiri di dunia ini, melainkan juga sangat terkait dengan kehidupan orang lain juga makhluk lainnya. Dalam konteks lebar, kita juga harus mampu melebarkan hati agar lebih sabar dan berempati kepada orang lain.
Untuk komponen ketiga yaitu tinggi. Tentang tinggi ini kita harus selalu mempertinggi iman (keyakinan) kepada Sang Pencipta Allah SWT. Tinggi ini juga sangat terkait dengan pada upaya memperbaiki hubungan dengan Allah yang di dalamnya ada rasa syukur di masa longgar maupun sulit.
Tentang syukur dalam semua kondisi ini sesuai dengan janji Allah bagi barangsiapa yang selalu bersyukur, maka akan semakin ditambah nikmatnya. Sesuai firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7 berikut;
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ٧
Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti (Aku) akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Untuk memahami ini, ada tiga hal yang harus dilakukan ketika menerima nikmat Allah agar dapat dipandang sebagai hamba yang bersyukur kepada-Nya. Pertama: secara batin ia harus mengakui telah menerima nikmat dari Allah. Kedua: secara lahir ia mengucapkan syukur atas nikmat itu. Ketiga: ia harus menjadikan nikmat itu sebagai pendorong untuk lebih giat beribadah kepada Allah.
Bila ketiga hal tersebut telah berpadu dalam diri seorang hamba, maka ia layak dikatakan sebagai hamba yang bersyukur kepada Allah. Tiga hal tersebut sebenarnya perpaduan antara hati, lisan dan perbuatan.
Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa makna syukur ialah “menampakan”. Sedangkan ini berlawanan dengan kata kufur yang berarti “menutupi”. Jadi, syukur adalah menampakan nikmat dengan menggunakan sebaik-baiknya dan sesuai dengan kehendak pemberi.
Lebih lanjut Quraish Shihab memaparkan, munculnya sikap kufur seperti rasa tidak puas hanya akan menyisakan perasaan tersiksa bagi dirinya sendiri. Sikap ini adalah hal yang sia-sia karena tidak menikmati kebesaran dan kekayaan yang dilimpahkan Allah SWT.
Demikian pembahasan kali ini, semoga dapat menambah wawasan Kita dalam terus berupaya berbuat kebaikan dalam kehidupan ini…
Disampaikan Oleh : Al-Ustadz Imam Muttaqin




Leave a reply