Adagium umum yang sering Kita dengar, rezeki, jodoh, dan kematian merupakan kehendak Allah. Begitulah, layaknya ajal dan jodoh, rezeki juga memang sudah ditetapkan, diatur oleh Allah. Setiap apa yang ada di bumi dan di langit, kesemuanya dijamin juga rejekinya. Jaminan rezeki dari Allah ini sudah tersebut di dalam Qur’an surat Huud ayat 6 berikut;
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
Artinya: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).”
Namun demikian, karena kecintaan Allah pada manusia, di ayat lain Allah tidak begitu saja memberikan rezeki seluas-luasnya. Hal ini dikarenakan ada sifat dasar manusia yang tidak baik dan makin membuat mereka jadi kufur bila rezeki itu dimudahkan semudah-mudahnya. Berikut firman Allah di surat Asy-Syura ayat 27 tentang kelapangan rezeki;
وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌ
Artinya: “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.”
Dari dua ayat di atas dapat dipahami bahwa setiap Kita sebagai manusia pasti sudah dijamin jatah rezekinya. Begitu juga dengan ukuran seberapa besar dan banyak rezeki yang Kita terima tersebut juga hanya Allah yang berkehendak. Lalu pertanyaannya kemudian adalah bila Kita berharap lebih banyak dari yang Allah berikan saat ini, apa yang bisa Kita upayakan?
Sebenarnya rezeki itu seperti jair hujan yang nyata, jelas dan berlimpah keberadaannya. Jika Allah berkenan memberikan, Allah akan mendatangkan hujan dengan rata kepada siapapun. Oleh karenanya tugas manusia cukup fokus memperbesar tempat penampung air hujan tersebut. Banyaknya rezeki yang bisa ditampung sangat bergantung dari seberapa besar wadah yang bisa Kita siapkan.
Setiap hari yang Kita jalani merupakan kesempatan untuk memperbesar wadah rezeki itu. Dengan demikian, jangan sampai Kita membuang waktu dengan hanya menangisi hujan yang tak kunjung datang. Apalagi mengerdilkan wadah yang Kita miliki sehingga semakin kecil dan tidak mampu menampung lebih banyak air saat hujan turun.
Lebih baik Kita menggunakan waktu untuk memperbesar wadah rezeki terlebih dulu secara terus menerus hingga ia datang pada saatnya. Saat esok rezeki datang, wadah Kita sudah siap menampung lebih banyak dari saat ini. Yang jelas, tugas Kita sebagai manusia adalah memperbesar kapasitas dan daya tampung dalam diri Kita untuk menerima datangnya rezeki tersebut.
Lalu bagaimana cara memperbesar wadah rezeki yang ada dalam diri Kita? Insya Allah pembahasannya akan Kita ulas di tulisan pekan depan…. Semoga ini semakin membuka pikiran Kita tentang konsep rezeki dan jadi ilmu yang bermanfaat amin… ya Rabbal alamain….
Oleh: Al-Ustadz Imam Muttaqin




Leave a reply