Setiap Kita pasti menghendaki kehidupan dunia dan akhirat yang bahagia. Hampir bisa dipastikan tidak ada satupun seseorang yang ingin hidup di dunia ini susah, gelisah, dan tidak merasakan ketentraman. Kalau kebahagiaan hidup di akhirat pastilah juga demikian. Meskipun dalam kenyataan banyak yang terlena hanya melakukan langkah kebahagiaan hidup di dunia.
Walaupun setiap manusia memiliki prinsip dan cara pandang yang berbeda dalam mengukur kebahagiaan, namun bisa dipastikan kesemuanya menghendaki kebahagiaan. Sejatinya, hal yang paling mempengaruhi seseorang dalam mengukur kebahagiaan adalah prinsip dan pandangan hidup yang dipijakinya. Oleh karena itu prinsip apa untuk merasakan kebahagiaan dunia pastilah berpengaruh terhadap setiap jiwa di dunia ini.
Lalu apa langkah agar hidup di dunia ini bisa merasakan kebahagiaan? Mari Kita perhatikan QS an-Nahl ayat 97 berikut;
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Artinya:
“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Dalam ayat ini Allah SWT memastikan dua syarat utama dalam meraih kebahabiaan yang sebenarnya yaitu amila shaliha (berbuat positif) dan huwa mu’min (orang beriman). Namun karena begitu generalnya dua kategori ini maka tidak mudah untuk memahaminya. Oleh karena itu, coba Kita kulik dua syarat tersebut.
Pertama, amila shalihan yang coba Saya maknai dengan berbuat dan bertindak nyata secara positif. Amila shalihan lebih cenderung pada perbuatan terhadap sesama makhluk Allah SWT sebagai sesama ciptaan-Nya. Dua kategori objek utama yang mengharuskan Kita berlaku positif adalah sesama makhluk hidup dan duia ini. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW sikap utama yang positif terhadap sesama manusia cukup dengan shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), fathanah (pandai menempatkan), dan tabligh (dapat menyampaikan hal baik dan buruk). Adapun prilaku positif pada ciptaan Allah SWT lainnya secara garis besar adalah menjaga kelestarian alam.
Kedua, huwa mu’minun berarti bahwa pelaku (manusia) itu harus dapat bisa dipastikan beriman. Sebagaimana pengertian iman pada umumnya termasuk dengan hal-hal yang diimani serta konsekwensinya. Seperti iman (menyakini) akan keberadaan dan sifat-sifat Allah SWT, iman kepada adanya malaikat, adanya kehidupan setelah kematian (akhirat), Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT, al-Qur’an sebagai panduan dan pedoman hidup, dan menerima ketetapan tentang kehidupan Kita (qadha qadar).
Secara garis besar rincian dua syarat ini dapat Kita baca dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 113-114 berikut ini;
لَيْسُوا سَوَاءً ۗ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya:
“Mereka itu tidak sama. Di antara ahli kitab itu, ada golongan yang berlaku lurus, mereka membacakan ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah di hari penghabisan. Mereka menyeru yang makruf dan mencegah yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang saleh.” (QS Ali Imran : 113-114)
Bila dua syarat dengan perinciannya ini bisa dilakukan dengan sempurna maka Allah SWT menjamin kehidupan Kita akan bahagia. Baik bahagia di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga Allah SWT membimbing Kita semua menjadi orang yang hidup bahagia. Terakhir, untuk lebih mantap jangan sampai lupa untuk terus berharap dan memohon pada Allah dengan do’a
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ




Leave a reply